Selamat datang di Lembaga Pelatihan & Konsultasi Akuntansi AKUNTAMATIKA

Artikel

AL-QURAN & AKUNTANSI (11): PERJALANAN AKUNTANSI SEBAGAI ILMU

AL-QUR’AN & AKUNTANSI (11): PERJALANAN AKUNTANSI SEBAGAI ILMU

 

Posisi tidur yang sama antara ketika seseorang merebahkan diri pada awal tidur dan ketika ia bangun tidak selalu berarti seseorang tersebut selama tidur tidak mengubah posisi tidurnya. Fakta tersebut diharapkan dapat menjadi hikmah sekaligus pelajaran bagi manusia yang berpikir. Kalau dalam 10 tulisan terdahulu kita mencoba melihat akuntansi dari perspektif yang sesungguhnya, yaitu matematika, dalam kesempatan ini marilah kita mencoba mencermati akuntansi dari perspektif yang lain, yaitu dari perspektif sejarah perjalanan akuntansi itu sendiri. Pertanyaan yang ingin coba diurai di sini adalah “Bagaimanakah perjalanan akuntansi sehingga akuntansi saat ini diperlakukan sebagai ilmu sosial murni?” Berikut ini beberapa fakta yang mungkin dapat menjelaskannya.

FAKTA 1: Di penghujung abad ke-15 sejarah mencatat bahwa akuntansi didokumentasikan secara akademik di buku matematika oleh Luca Pacioli yang merupakan pemerhati ilmu matematika. Namun demikian, dalam tulisan tersebut tidak diurai secara jelas dan kongkrit keterkaitan akuntansi dengan matematika. Luca Pacioli mempertimbangkan bahwa metode sistem pencatatan berpasangan (disebut metode Venesia karena dipraktikkan di Venesia yang pada masa itu merupakan salah satu pusat perdagangan dunia) keluar dari konteks buku Summa yang merupakan buku matematika. Ketiadaan penjelasan yang memadai tentang mekanisme debet kredit atau sistem pencatatan berpasangan sebagai aplikasi matematika di buku Summa tersebut nampaknya merupakan salah satu faktor utama yang berdampak sangat besar dalam perjalanan akuntansi sebagai ilmu pengetahuan.

 

FAKTA 2: Seiring berjalannya waktu, pengetahuan akuntansi dalam perjalanannya banyak memberi manfaat di dunia bisnis. Sementara itu, aktivitas bisnis oleh sebagian manusia dipersepsikan merupakan perwujudan dari seni (art) sehingga, menggunakan rantai logika (logic chain), selanjutnya hal ini mendorong pemerhati akuntansi menyimpulkan bahwa akuntansi merupakan seni. Kesimpulan ini diperkuat dengan ketiadaan penjelasan sistem pencatatan dari perspektif (fakta 1 di atas) yang memunculkan dugaan dan spekulasi secara variatif. Boleh jadi, dari perspektif lain, kesimpulan akuntansi sebagai seni di era sebelum abad ke-20 sebenarnya merupakan apresiasi masyarakat pada masa itu terhadap pengetahuan akuntansi sebagai pengetahuan (Hatfield, 1924). Sebagai catatan, bukti-bukti menunjukkan bahwa pada masa lampau tidak terdapat pengelompokan (kalau tidak boleh disebut dikotomi) antar bidang ilmu sebagaimana nampak jelas dewasa ini. Salah satu contohnya adalah karir Luca Pacioli sebagai ahli matematika, sebagai Frater (salah satu hirarkis dalam agama Katolik, penulis), dan sekaligus sebagai asisten pedagang mencerminkan bahwa dikotomi ilmu belum terjadi secara nyata.

 

FAKTA 3: Waktu terus berjalan yang beriringan dengan perubahan yang selalu terjadi, di era abad ke-21 semakin berkembang kegiatan bisnis. Bagaikan bola salju yang menggelinding ke lembah, pertumbuhan bisnis diikuti dengan semakin banyaknya individu yang mempelajari sistem pencatatan berpasangan. Disamping itu, nampaknya mulai terbentuk persepsi di masyarakat bahwa seni merupakan sesuatu yang justru berkembang melalui ketidak-sistematisan. Padahal, akuntansi (terutama sistem pencatatan berpasangan) merupakan sesuatu yang sangat sistematis. Dalam perjalanan selanjutnya, oleh karena itu, terdapat pemikiran untuk tidak menempatkan akuntansi sebagai seni. Dalam kesempatan tersebut mulailah muncul gagasan akuntansi sebagai ilmu sosial. Gagasan ini menurut hemat penulis juga dipicu salah satunya oleh ketiadaan uraian yang memadai terkait sistem pencatatan berpasangan yang sebenarnya merupakan aplikasi matematika.

 

Uraian di atas merupakan sepenggal sejarah perjalanan akuntansi sebagai bidang ilmu. Dewasa ini akuntansi diperlakukan sebagai ilmu sosial murni,yaitu pengetahuan yang pada dasarnya dimaksudkan untuk mempelajari interaksi antar manusia. Melihat dari sejarah tersebut nampaknya perjalanan akuntansi di masa datang masih panjang dengan kita tetap berharap dan berdoa agar pengembangan akuntansi menuju ke arah yang baik. Penamaan sebagai ilmu sosial saat ini seharusnya bukanlah merupakan isu yang sangat besar. Dalam bentuk pertanyaan, yang menjadi isu penting sesungguhnya dalam pengembangan akuntansi dewasa ini adalah “Bersediakah kita sebagai pemerhati akuntansi untuk mengembalikan akuntasi ke khittah, yaitu ilmu pengetahuan yang berlandas pada matematika?” Isu ini sangat penting karena sekali lagi kita bisa mengambil hikmah sekaligus belajar bahwa pohon yang baik selalu berlandas pada akar awal yang membentuknya.

 

Referensi:

Hatfield, H. R. 1924. An Historical Defense of Bookkeeping. Journal of Accountancy: 241 – 253.

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al Qur’an & Akuntansi: Menggugah Pikiran Mengetuk Relung Qalbu. ABPublisher. Edisi pertama. Fb: akuntamatika@yahoo.com

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur’an & Akuntansi (6): Pengetahuan yang Rahmatan lil ‘alamin. 5 Oktober. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/05/a-quran-akuntansi-6-pengetahuan-yang-rahmatan-lil-alamin/

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur’an & Akuntansi (7) Seputar Islamization of Knowledge. 12 Oktober. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/12/al-qur%E2%80%99an-akuntansi-7-seputar-islamization-of-knowledge/

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur’an & Akuntansi (8): Air yang “Menghidupkan”. 19 Oktober. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/19/al-qur%E2%80%99an-akuntansi-8-air-yang-%E2%80%9Cmenghidupkan%E2%80%9D-502112.html

 

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur’an & Akuntansi (10): Matematika dalam Kehidupan. 2 November. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/11/02/al-quran-akuntansi-10-matematika-dalam-kehidupan-505276.html

 


Post. 07 February 2013 , By admin