Selamat datang di Lembaga Pelatihan & Konsultasi Akuntansi AKUNTAMATIKA

Artikel

AL-QURAN & AKUNTANSI (10): PERJALANAN SINGKAT SEBAGAI ILMU SOSIAL

AL-QUR’AN & AKUNTANSI (10): PERJALANAN SINGKAT SEBAGAI ILMU SOSIAL

 

Perubahan lebih sering berupa evolusi, daripada revolusi sehingga tidak mudah mengenali terjadinya perubahan yang ada. Hal ini dapat saja terjadi selama perjalanan akuntansi sebagai ilmu pengetahuan. Tulisan singkat ini mencoba menyajikan perjalanan akuntansi sebagai ilmu sosial. Bahkan, rasanya tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa sebagian besar pemerhati akuntansi dewasa ini menempatkan akuntansi sebagai ilmu sosial murni.

 

Sederhananya, ilmu sosial (murni) pada dasarnya membahas tentang beragam pengetahuan yang dikembangkan dalam rangka menjadikan interaksi antar manusia (termasuk makhluk hidup lainnya dan alam) dapat berlangsung baik. Sebagai contoh, pengenalan dan pembelajaran sejarah kehidupan manusia masa lampau (antara lain berupa budaya dan aneka artefak yang tertinggal) seringkali dikategorikan sebagai ilmu sosial. Berbagai gagasan yang ditawarkan dalam rangka pengembangan tata-pemerintahan dan politik dewasa ini juga dipertimbangkan sebagai contoh yang dapat diidentikkan dengan pengembangan ilmu sosial.

 

 

Pengenalan sejarah ini terutama dimaksudkan untuk menjadi pembelajaran oleh manusia modern untuk berinteraksi dengan manusia. dalam rangka mempelajari kehidupan masyarakat masa lampau 

awal  perlakuan akuntansi sebagai ilmu sosial. umah sakit oksigen merupakan produk yang dihargai dengan nilai moneter yang tinggi, sedangkan di berbagai tempat lain oksigen merupakan produk bebas yang dapat dinikmati sepuasnya. Namun demikian, manusia selalu membutuhkan oksigen untuk melanjutkan perjalanan hidup hingga waktu yang telah ditetapkan ALLAH SWT. Dapatkah pengetahuan matematika dianalogikan dengan peranan oksigen dalam kehidupan? Marilah kita simak sekelumit paparan fakta berikut ini, baik dalam rutinitas sebagai manusia maupun dalam pengembangan akuntansi.

 

Boleh jadi sebagian dari kita merasa jengah, alergi atau bahkan trauma dengan matematika. Walaupun beragam pernyataan dapat dilontarkan untuk mencerminkan “ketidak-pedulian” terhadap matematika, namun demikian, manusia selalu menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh,  agar kita dapat datang ke tempat tujuan tepat waktu maka kita memperhitungkan antara lain jarak yang ditempuh dan kecepatan kita dalam berkendara. Ketika seseorang bangun tidur dan melihat jam menunjukkan waktu 03.50 (wib, di Yogyakarta pada bulan Oktober) maka ia menyadari bahwa 10 menit lagi adzan Subuh berkumandang dari masjid-masjid. Arti penting matematika dalam kehidupan semakin kongkrit dirasakan ketika manusia melakukan muamalah seperti misalnya jual-beli. Pembeli maupun penjual harus memiliki pengetahuan matematika agar transaksi berjalan lancar; jika konsumen membeli produk A seharga Rp76.000 dengan menyerahkan uang Rp100.000 maka ia mensyaratkan penjual memiliki pengetahuan matematika yang pada gilirannya bersedia menyerahkan uang kembalian Rp24.000. Sangat banyak ragam aktivitas yang mencerminkan penerapan matematika dalam kehidupan. Menariknya, bahkan secara otomatis organ tubuh dan lingkungan alam yang menyelimuti manusia juga menerapkan matematika. Lihatlah detak jantung, terbitnya matahari, komposisi udara, dsb yang semuanya merujuk pada beroperasinya pengetahuan matematika dari yang sangat sederhana hingga sangat rumit.

 

Bagaimana dengan pemanfaatan matematika di akuntansi? Meskipun sebagian pemerhati “mengingkari” keberadaan matematika dalam akuntansi tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Penerapan matematika di akuntansi secara kongkrit terimplementasi dalam mekanisme debet kredit (lihat Sony Warsono-bin-Hardono, 2012). Tidak hanya itu, masih banyak contoh penerapan matematika di akuntansi. Keseimbangan yang harus selalu terjaga dalam penyajian laporan posisi keuangan (neraca), penghitungan laba/rugi, penghitungan saldo di setiap akun, penggunaan akun-akun sebagai penjabaran elemen dalam persamaan akuntansi, keterkaitan antar jenis-jenis laporan keuangan, dan pencatatan penutup dalam rangka menutup akun-akun nominal merupakan contoh kongkrit berlakunya ilmu matematika dalam akuntansi. Ajakan IFRS untuk menggunakan fair value (nilai wajar) dalam pelaporan keuangan juga menuntut pembelajar akuntansi memiliki pengetahuan matematika yang memadai. Seorang pembelajar akuntansi boleh saja tidak tertarik menerapkan matematika tetapi ketika berhadapan dengan permasalahan yang menyangkut penyajian informasi keuangan maka ia tidak sadar menerapkan pengetahuan matematika untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ketidaksadaran seorang pembelajar akuntansi dalam menerapkan matematika seakan senada dengan ketidaksadaran sebagian kita ketika menarik napas untuk mengalirkan oksigen ke dalam tubuh kita.

 

Referensi:

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al Qur’an & Akuntansi: Menggugah Pikiran Mengetuk Relung Qalbu. ABPublisher. Edisi pertama. Fb: akuntamatika@yahoo.com

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur’an & Akuntansi (1) Asal-usul Debet Kredit. 31 Agustus. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/08/31/al-quran-akuntansi-1-asal-usul-debet-kredit/

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur’an & Akuntansi (2): Sistem Pencatatan Berpasangan. 7 September. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/07/al-quran-akuntansi-2-sistem-pencatatan-berpasangan/

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur’an & Akuntansi (6): Pengetahuan yang Rahmatan lil ‘alamin. 5 Oktober. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/05/a-quran-akuntansi-6-pengetahuan-yang-rahmatan-lil-alamin/

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur’an & Akuntansi (7) Seputar Islamization of Knowledge. 12 Oktober. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/12/al-qur%E2%80%99an-akuntansi-7-seputar-islamization-of-knowledge/

Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur’an & Akuntansi (8): Air yang “Menghidupkan”. 19 Oktober. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/19/al-qur%E2%80%99an-akuntansi-8-air-yang-%E2%80%9Cmenghidupkan%E2%80%9D-502112.html

 


Post. 07 February 2013 , By admin